|
| Saya tidak dapat mengingat sejak kapan saya mulai ... |
| Friday, June 16, 2006 |

Saya tidak dapat mengingat sejak kapan saya mulai punya keinginan yang begitu kuat untuk menjadi seorang guru. Semasa kanak kanak, saya bermain sekolah-sekolahan dengan beberapa keponakan dan kawan saya agar dapat belajar mempraktekkan cita citaku yg satu ini. Tapi yg tak kusadari selaku seorang kanak kanak adalah begitu mahal impianku tersebut. Saya berasal dari keluarga kelas menengah,dan tampaknya kita selalu harus bekerja keras untuk memperjuangkan segala sesuatunya. Impianku untuk kuliah di Universias Connecticut seolah olah begitu jauh dari jangkuanku, meskipun begitu aku tak pernah berhenti berusaha.
Di tahun tahun awal masa SMU saya sudah mulai mengajukan pendaftaran ke beberapa lembaga pendidikan tinggi, tapi dalam hatiku sudah ku putuskan, Universitas Conecticut-lah satu satunya tujuanku. Tetapi halangan yg besar sudah berdiri di antara aku dan impianku - masalah pembiayaan.
Pada awalnya, saya sudah siap mundur. Maksudku, siapa yg bersedia membiayai pendidikan tinggi seorang gadis SMU dengan nilai biasa biasa saja. Saya tidak termasuk murid yg cerdas sekali, mendekati saja belum; tetapi hatiku sudah sulit di ubah, dan saya sudah bertekad bulat. Saya tahu bahwa bea siswa umumnya di berikan kepada murid yg cerdas, atau yg begitulah pikirku. Saya mengajukan ke hampir semua pemberi bea siswa yg dapat kutemukan, lagipula apa ruginya? sampai kemudian pembimbingku memberitahukan saya tentang system pemberian bea siswa. Meskipun saya sudah mengajukan, tapi rasanya saya tak akan memenuhi syarat yg di tetapkan.
Setelah masa liburan selesai, kawan kawanku mulai menerima surat tanda terima masuk lembaga lembaga pendidikan tinggi, dan sayapun berharap harap dengan cemas. Akhirnya, sebuah surat datang juga dari Universitas Connecticut! Perasaan takut dan gembira sekaligus memenuhi seluruh tubuhku, meski begitu saya sudah siap. Saya membuka amplopnya dengan tangan gemetar sementara air mata mulai menitik dari kedua mataku. Saya berhasil! Saya diterima di Universitas Connecticut! Saya menangis sebentar, menahan perasaan sangat senang dan agak kawatir pula. Saya sudah bekerja begitu keras agar diterima; bagaimana seandainya saya ditolak lantaran masalah biaya?
Saya mulai bekerja secara full time sejak itu, tapi itupun hampir tidak mencukupi biaya kuliah yg kuperlukan. Kedua orang tua saya tak akan sanggup menanggung biaya sebesar itu dan sayapun tidak akan berpura pura mereka mampu. Sayalah anggota keluarga pertama yang akan memasuki pendidikan tinggi di Universitas, sudah pasti saya tahu kedua orang tua saya sangat bangga; tapi bagaimanapun mereka tidak mungkin bisa membiayai kuliahku. Meski begitu, kedua orang tua saya adalah orang tua yg hebat, mereka mengajarkan untuk tidak pernah menyerah mengejar impian meskipun banyak halangan yg saya temui, dan jangan membiarkan barang sedetikpun apa yg saya inginkan dalam hidup ini hilang dari pandangan. Saya tahu kedua orang tua saya benar dan sayapun senantiasa percaya terhadap diri sendiri dan impiamku.
Bulan bulan telah berlalu dan saya tidak mendapat kabar dari lembaga pemberi bea siswa. Saya sudah berpikiran bahwa saya tidak memenuhi persyaratan bea siswa, tapi saya belum putus asa. Akhirnya sebuah surat sampai juga ke tangan saya. Saya membukanya penuh harap, tapi rupanya itu bukan surat penentuan yang sebenarnya. Surat tersebut memsyaratkan lebih banyak informasi lagi agar permohonanku dapat diproses.
Kejadian seperti ini berlangsung berkali-kali dan harapanku semakin mengempis. Akhirnya sebuah amplop tebal tiba. Saya sudah tahu bahwa yg satu ini akan menentukan apakah saya akan diterima atau tidak. Saya membuka amplopnya dan menemukan banyak dokumen yg tak dapat kumengerti maksudnya.
Hari berikutnya saya membawa seluruh dokumen tersebut ke sekolah agar pembimbingku dapat lihat isinya. Dia memandang saya dgn senyum yg sangat cerah dan bilang bahwa bukan hanya bea siswa berhasil kudapatkan, tapi dua permohanan bea siswa saya keduanya disetujui. Saya sangat terkejut pada saat itu tapi kemudian menangis. Saya benar-benar telah berhasil membuat impianku menjadi kenyataan.
Saya sekarang adalah mahasiswa junior di universitas Connecticut yang sedang mengejar gelar sarjana di jurusan bahasa Inggris. Pada awal millenium baru ini impianku akan menjadi nyata. Saya akan menjadi seorang guru.
Saya hidup bersama ungkapan ini : "Raihlah sampai setinggi langit sebab meskipun akhirnya tidak mencapai, engkau masih berada diantara bintang bintang"
Sumber : Rosa Torcasio |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:34 AM  |
|
|
|
| Mengatasi Masalah dengan EFEKTIF ... |
|

Ada sepasang kakek nenek yang tinggal berdua di sebuah rumah, mereka menikmati hari tuanya dengan tentram, lingkungan mereka sepi tanpa gangguan karena rumah mereka ada di ujung sebuah jalan yang buntu, tidak ada kendaraan yang lewat rumah mereka.
Pada suatu hari, sekelompok anak mulai bermain sepak bola di depan rumah mereka, di atas badan jalan buntu tersebut Anak anak itu bermain dan berteriak teriak dengan seru, sangat ribut dan merampas ketentraman yang selama ini dinikmati sepasang kakek nenek itu.
Besoknya hal itu terulang kembali, demikian juga dengan lusanya, rupanya anak anak itu kini telah mendapatkan sebuah 'markas baru' tempat mereka bermain, bercanda,bersenda gurau, berteriak, bahkan berkelahi.
Tujuh hari lamanya sang kakek nenek terganggu, mereka berpikir keras mencari upaya agar anak anak itu tidak lagi bermain di depan rumah mereka.
Pada hari ketujuh, ketika anak anak bermain sepak bola sambil berteriak teriak dengan gaduh, sang kakek keluar rumah, lalu ikut berteriak teriak memberikan semangat kepada anak anak yang sedang bermain itu.
Ketika permainan sepak bola berakhir, sang kakek menyediakan beberapa botol coca cola untuk anak anak melepaskan haus.
Tentu saja anak anak kegirangan, mereka kemudian diberitahu bahwa kakek kesepian dan ingin mengusir kesepiannya dengan mendengarkan suara gaduh anak anak, semakin gaduh mereka, semakin senang sang kakek.
Hari hari berikutnya hal yang sama berulang kembali, sang kakek ikut bercanda, berteriak, bahkan kadang ikut bermain bola dengan sepasang kakinya yang sudah lemah. kakek selalu menyediakan coca cola, bahkan kemudian mengeluarkan permen, kue, atau coklat kalau mereka bisa berteriak dengan keras. semakin gaduh, semakin banyaklah makanan yang disediakan oleh sang kakek.
Tepat sebulan kemudian, ketika anak anak itu selesai bermain, mereka tidak lagi disediakan coca cola, apalagi permen atau coklat.
Sang kakek berjanji besok pasti akan ada coca cola dan coklat, asalkan mereka besok bisa membuat kegaduhan yang luar biasa.
Besoknya, mereka bermain dengan luar biasa gaduh, tapi ternyata sang kakek kembali ingkar janji, besok dan besoknya sang kakek terus mengumbar janji, bahwa akan ada coca cola dan coklat, bahkan permen, kue, mainan dan banyak janji lainnya.
Anak anak mencoba bersabar, mereka terus menciptakan kegaduhan seperti permintaan si kakek, namun sang kakek terus tidak menepati janjinya.
Akhirnya, hilanglah kesabaran anak anak, mereka kemudian memindahkan markas mereka ke jalan yang lain, " Biar si kakek kesepian, biar dia tahu rasa karena mengingkari janjinya, kita tidak akan lagi memberikan kegaduhan untuknya, mari kita pindah dan main di tempat lain, biarkan jalan ini sepi sehingga si kakek kesepian, biar dia nyaho !! ".
Maka sejak saat itu, sepilah jalan di depan rumah si kakek, anak anak marah dan tidak mau lagi bermain disitu.
Sejak hari itu, sang kakek nenek kembali bisa menikmati hari harinya tanpa kegaduhan lagi ...
Konon di markas baru berikutnya, anak anak selalu ribut, dan para penghuni rumah disana yang jalannya dijadikan markas selalu memberikan permen dan coklat apabila anak anak bisa bermain sepak bola dengan tertib, tidak berisik, sebaliknya permen dan coklat tidak ada apabila mereka ribut sekali.
Konon juga permen dan coklat itu berlangsung bertahun tahun karena anak anak yang tumbuh besar digantikan anak anak baru generasi berikutnya yang 'betah' bermain sepak bola dan berteriak teriak di markas itu, bahkan kemudian anak anak yang sudah lebih besar ada yang menjadi preman yang tidak puas dengan permen, tapi rokok.
Syukurlah, sang kakek dan nenek berhasil mengatasi masalahnya dengan efektif karena metoda yang digunakannya lebih tepat.
Sumber : Rosa Torcasio |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:33 AM  |
|
|
|
| ... MENGAMPUNI OrAng LaiN. |
|

v Ambillah inisiatif. Jangan tunggu orang yang bersangkutan minta maaf.
v Kalau orang yang telah Anda ampuni itu ingin memasuki kehidupan Anda lagi, adillah untuk menuntut kejujuran. la hendaknya dibuat mengerti, dibuat merasakan kepedihan yang telah Anda rasakan. Lalu hendaknya Anda harapkan janji tulus bahwa Anda takkan dilukai seperti itu lagi.
v Bersabarlah. Kalau kepedihannya dalam, Anda tidak mungkin mengampuninya seketika. Ampunilah "secara eceran", bukannya "secara grosiran". Adalah hampir tidak mungkin mengampuni seseorang yang jahat. Fokuskanlah pada perbuatan tertentu yang menyinggung Anda (Mungkin akan membantu kalau Anda menuliskannya).
v Jangan terlalu berharap. Mengampuni tidaklah berarti Anda harus memperbaharui hubungan yang pernah dekat.
v Singkirkanlah rasa benar sendiri. Seorang korban bukanlah orang kudus.Andapun bisa-bisa membutuhkan pengampunan suatu hari nanti.
v Pisahkanlah amarah dengan kebencian. Untuk menghilangkan kebencian Anda:Hadapilah emosi Anda dan terimalah itu sebagai alami. Lalu diskusikanlah, entah dengan objek kebencian Anda (kalau Anda dapat melakukannya tanpa menambah kebenciannya) atau dengan pihak ketiga yang bisa Anda percayai.
v Ampunilah diri sendiri. Mungkin inilah yang paling berat. Bersikap apa adanya sangat penting. Akuilah kesalahan Anda. Rileks-kanlah pergumulan Anda untuk menjadi sempurna. Lalu bersikaplah yang konkrit dan spesifik tentang apa yang mengganggu Anda. Perbuatan Anda mungkin jahat. Tetapi Anda tidak.
Sumber : "Forgive and Forget" by : Lewis B. Smedes |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:30 AM  |
|
|
|
| kEpOmpOng KUPU-2 |
|

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu- kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Orang itu duduk dan mengamati dalam beberapa jam ketika kupu-kupu itu berjuang memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya kupu-kupu itu telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya. Namun, kupu-kupu itu mempunyai tubuh gembung dan kecil serta sayap-sayapnya mengkerut. Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh kupu-kupu itu, yang mungkin akan berkembang.
Namun semuanya tidak akan pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang.
Yang tidak dimengerti dari kebaikan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.
Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.
Saya mohon Kekuatan ... Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya memohon Kebijakan ... Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon Kemakmuran ... Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.
Saya memohon Keteguhan hati ...Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.
Saya memohon Cinta ... Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Saya memohon Kemurahan/Kebaikan hati ... Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.
Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, sayamendapatkan segala yang saya butuhkan.. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:29 AM  |
|
|
|
| Berpelukan Mesra dengan Kesedihan ... |
|

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka kedoknya......... Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama Semkin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan (KAHLIL GIBRAN)
Kalau boleh memilih, ada banyak sekali manusia yang hanya mau kebahagiaan, dan membuang kesedihan. Sayangnya, sebagaimana alam yang mengenal siklus,kehidupan manusia pun mengenal siklus. Kesedihan dan kebahagiaan adalah salah satu dari banyak siklus yang harus kita lalui. Tidak ada kehidupan yang tidak diwarnai oleh kesedihan. Diundang maupun tidak, ia akan senantiasa datang. Banyak kejadian bahkan terbukti, semakin ia dibenci dan ditakuti, semakin ia senang dan rajin berkunjung ke diri kita. Maka, sengsaralah hidup mereka yang membenci kesedihan. Bercermin dari goresan Kahlil Gibran di atas, kesedihan dan kegembiraan adalah dua saudara kembar yang melakukan kegiatannya secara bergantian. Keserakahan, atau sebaliknya kekhusukan doa manusia mana pun tidak akan bisa membuat dua saudara kembar ini berpisah. Ia seperti dua sayap dari seekor burung. Dibuangnya salah satu sayap, adalah awal dari celakanya "burung" kehidupan.Kahlil Gibran sampai pada pemahaman yang lebih dalam.
Tanpa kesedihan, jiwa manapun tidak akan memiliki daya tampung yang besar terhadap kebahagiaan. Ketika kita bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di pembaringan. Persoalannya adalah, punyakah kita cukup keberanian dan kesabaran untuk berpelukan mesra dengan kesedihan? Nah, inilah sebuah kualitas pribadi yang dimiliki oleh sangat sedikit orang. Untuk menerima kebahagiaan, kita tidak memerlukan terlalu banyak kedewasaan. Akan tetapi........, untuk berpelukan mesra dengan kesedihan, diperlukan kearifan dan kedewasaan yang mengagumkan. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:27 AM  |
|
|
|
| ... TIPS Makan di Restoran |
|

· Berhati-hatilah ketika memesan makanan yang ada di restoran : semakin sulit dibaca nama masakannya, semakin mahal harganya.
· Jangan terjebak dengan tawaran dari pramusaji yang menawarkan hampir semua makanan yang bisa dimasak oleh koki, mereka tidak peduli apakah itu terlalu banyak bagi kita. Ingatlah aturan “empat sehat llima sempurna” yang telah diajarkan kepada kita sejak kecil : nasi Putih, daging/ikan, sup, sayur, dan yang kelima the hangat.
· Jangan percaya foto makanan yang terpampang di menu. Bisa saja kelihatannya sangat menarik dan lezat, tapi nyatanya tidak. Menanyakan bahan dan bumbu masakannya akan jauh lebih baik.Paling baik kalau ada icip icipnya … he…he…he… · Ini paling penting ! Jangan pernah pergi kerestoran tanpa membawa kantong plastic. Biasa … ini untuk anjung saya yang di rumah … Pastikan jangan sampai dicampur dengan sisa-sisa makanan yang lain … bisa-bisa jadi seperti anak yang terhilang … makan sisa ampas makanan
|
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:24 AM  |
|
|
|
| ** pErEmpUAn. |
|

Dia yang diambil dari tulang rusuk.Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya,maka itu akan menjadi saling melengkapi.Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan.
Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu,tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkauberada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewatolehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.
Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki: perasaan, emosi,kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan,mengurusi hal-hal sepele... sehingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-halitu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya... sehingga tanpa kau sadariketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karenakehadirannya di sisimu. Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki,itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanyadengan sebuah senyuman, itulah perempuan. Ia tidak butuh argumentasi hebatdari seorang laki-laki... tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karenaia ada untuk dilindungi... tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.
Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti danlogis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapiyang ia butuhkan adalah perhatiannya... kata-kata yang lembut...ungkapan-ungkapan sayang yang sepele... namun baginya sangat berarti...membuatnya aman di dekatmu....
Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-lakiyang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidakmudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang... seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan danketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun. Ia lembutbukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokohdan rindang.
Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian darihidupnya... tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akanmenyita seluruh hidupnya... Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuklaki-laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki... apa yang menjadibagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akanmenjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga.Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganyatetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana.... karena mereka, iamenjadi seperti sekarang ini.
Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmujuga... karena kau dan dia adalah satu.... dia adalah dirimu yang tak adasebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapanganyang sama denganmu.
Sumber : Gilbert E Sinaga |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:22 AM  |
|
|
|
| Ke.I.N.G.I.N.an - Bagai Laut Tanpa Batas |
|

Sukses dan tidaknya suatu proyek sangat tergantung dari manusia yang terlibat di dalamnya. Karena itu, jika anda memiliki kesempatan untuk menjadi manajer proyek, maka kemampuan memahami motivasi personil tim kerja sangatlah diperlukan. Setiap manusia, hidup karena adanya keinginan dan harapan. Bila anda mampu mengakomodasi harapan mereka, maka anda akan dapat merebut komitmen dan loyalitasnya.
Tapi keinginan manusia bagaikan laut tanpa batas. Sebagai contoh – ketika kita mulai berkarir – motivasi awal kita dalam bekerja adalah terpenuhinya "kebutuhan fisiologis" – yaitu cukup makan, pakaian dan tempat kos untuk berteduh. Ketika kebutuhan ini telah terpenuhi – karir kita menanjak – kita ingin memiliki rumah sendiri. Berikutnya, karena rumah sudah dimiliki, berikutnya akan dikejar rasa aman. Sekolah anak ? perlu asuransi pendidikan. Jika meninggal, siapa yang membayar tunggakan-tunggakan yang ada? mendorong asuransi jiwa, kalau mobil kesrempet truk di jalan bagaimana ? Perlu asuransi mobil. Hal-hal seperti ini tidak bisa di"jual" ke orang yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Tahap ini adalah tahap pemenuhan kebutuhan akan "rasa aman".
Kalau sudah punya rumah dan kendaraan yang "fancy", berikutnya adalah keinginan untuk bersosialisasi –mulai ada keinginan untuk arisan dan bila perlu menjadi tuan rumahnya. Sebagai mahluk sosial manusia memerlukan manusia lain. Sesombong apapun orang, dia perlu orang lain, minimal untuk menyaksikan kesombongannya. Club-club Golf, temu alumni, kegiatan sosial – Rotary Club – Lions Club, yayasan sosial dan keagamaan, biasanya beranggotakan orang yang berada pada tingkatan keinginan "bersosialisasi" ini.
Setelah tahapan sosialisasi, maka manusia akan masuk ke tahap keinginan untuk "dihargai" dalam komunitas. Dalam ikatan alumni misalnya, ingin menjadi sekretaris atau bendahara bahkan ingin jadi ketua. Dan pada puncaknya adalah tahap "aktualisasi" diri. Sudah banyak "rahmat" yang telah diterima, maka ada saatnya manusia ingin mengamalkan hidupnya untuk berbuat banyak bagi masyarakat. Keinginan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat atau keinginan untuk memperbaiki kehidupan timbul pada saat ini. Tetapi sangat celaka kalau – anggota DPR yang semestinya adalah orang-orang pada tahap aktualisasi diri ini – ternyata merupakan oknum-oknum yang masih berkutat pada masalah kebutuhan fisiologis.
Keinginan yang bertingkat, dimana terpenuhinya satu tingkat kebutuhan, akan menimbulkan motivasi untuk mengejar kebutuhan lain, menyebabkan keinginan manusia seolah laut tanpa batas. Bagi orang yang mengejar dengan keserakahan, maka isi dunia seolah tidak cukup bagi dirinya. World is not Enough. Rekan-rekan sekalian, marilah kita renungkan apa artinya "Cukup" – sehingga anda memahami kapan harus berhenti. Tidak tahu kapan berhenti, terbukti telah banyak membawa celaka, bahkan itu membawa nestapa bagi pemimpin negara sekalipun.
Jika anda memahami "hirarki kebutuhan" ini, maka akan lebih mudah untuk membangun motivasi pekerja anda. Cara memotivasi "Office Boy" tidak sama dengan "arsitek" yang merancang Gedung sepuluh lantai yang sedang anda bangun. Office Boy akan mengingat dengan penuh rasa terima kasih ketika kita memberikan "bonus" Rp. 150.000,- untuk membantu biaya sekolah anaknya. Tetapi apa arti uang sebesar itu untuk seorang arsitek ? Dengan harga yang sama, dia akan lebih mengingat korek Zippo yang kita berikan saat dia berulang tahun. "Sentuhan kecil" harus tepat, sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Selain untuk memimpin orang lain, memahami tingkatan kebutuhan ini, perlu untuk memimpin diri sendiri. Sebagai manajer proyek terkadang kita digoda oleh peluang-peluang yang menjerumuskan kita. Ada suatu tembang Jawa berirama Asmarandana yang isinya bisa kita gunakan untuk bahan perenungan :
Ojo turu sore kaki, ono dewo anglayang jagad, nyangking bokor kencono, isine dungo tetulak, sandang wisma pangan. Ikumung bagian ipun, wong melek sabar narimo.
"Jangan tidur sore-sore, cucuku" – kalimat ini menasehati kita agar jangan tidur atau membuka mata terhadap berbagai peluang yang ada. = = = "Ada dewa yang malayang memantau dunia" – tetapi dalam mengambil berbagai peluang, ingatlah selalu bahwa ada Tuhan yang memantau alam semesta ini. = = = "Membawa bokor kencono" – beliau membawa bokor emas. = = = "yang berisi doa tolak bala, sandang wisma pangan" – kebutuhan fisiologis dan rasa aman. = = = "Rahmat tersebut untuk orang yang melek, sabar dan nrimo" – Apa kriteria orang yang terpilih mendapat rahmat tersebut ? yaitu orang yang "melek" – pandai melihat peluang, "sabar" – mampu menahan gejolak nafsu, "nrimo" – merasa puas terhadap rahmat yang telah dianugrahkan olehNya pada saat ini.
Rekan-rekan sekalian, jika anda sedang memiliki kewenangan, INGATLAH ! Ada "MATA" yang memantau jagad ini. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:19 AM  |
|
|
|
| POSITIFkah pIkIrAn anda... |
|

Seseorang yang berfikir positif akan terus menghasilkan buah pikiran yang positif pula, harapan, optimisme, dan kreatifitas. Dengan cara demikian, ia membuat lingkungan sekitarnya bergerak secara positif sehingga ia cenderung mendapatkan hasil yang positif.
Untuk meraih keberhasilan, orang harus selalu memiliki motivasi untuk maju dan tidak mudah menyerah takkala menghadapi percobaan. M. Marcus. A, filsuf dan kaisar Roma dalam tulisannya, Meditation, menyatakan hidup kita adalah bagaimana pikiran kita mewujudkannya.
Jadi, berfikir positif adalah cara membuat hidup menjadi positif atau melihat segala sesuatu yang lebih memberikan motivasi. Akan tetapi, berfikir positif bukan berarti memiliki keyakinan berlebihan yang tanpa menggunakan perhitungan, namun di sini lebih ditekankan pada cara menilai kembali segala sesuatu dengan menekankan pada segi yang positif.
Beberapa hal di antaranya adalah : 1. Bayangkan akibat terburuk yang mungkin terjadi Bila anda cenderung mudah khawatir bahwa segala sesuatu tidak akan berjalan sesuai dengan yang anda harapkan, bayangkanlah akibat terburuk yang mungkin terjadi dengan bertanya kepada diri sendiri. Anda akan merasa lebih tenang dengan menerimanya bahwa semua itu bukan akhir dari segalanya. Pikirkanlah cara-cara untuk membuat keadaan lebih baik. Sekali anda mulai bertindak, anda tidak akan mempunyai waktu untuk memikirkan kekhawatiran. Dalam hal ini anda pun perlu mempunyai waktu untuk memikirkan kekhawatiran. Dalam hal ini anda pun perlu memperhitungkan apakah kekhawatiran anda memang masuk akal. Jangan biarkan diri anda dilanda kecemasan yang terlalu kecil kemungkinannya akan terjadi! Ingatlah, terkadang kita membayangkan malapetaka yang belum tentu terjadi!
2. Lihatlah segala sesuatu secara khusus, jangan disamaratakan! Sudah sewajarnya bila kita memiliki suatu hal yang tidak mampu kita kerjakan dengan baik. Oleh karena itu, kita tidak perlu menyamaratakan. Jangan sampai ketidakmampuan kita melakukan suatu hal membuat kita merasa tidak mampu melakukan hal lain. Terkadang kita cenderung membesar-besarkan sesuatu hal dari yang sebenarnya.
3. Lakukan sebaik mungkin lalu terimalah bagaimanapun hasilnya! Bila anda telah berusaha mengerjakan sesuatu atau menyelesaikan suatu masalah dengan segenap kemampuan anda, hadapilah apa pun yang akan terjadi bahkan hal yang paling kritis sekalipun. Anda harus menyadari bahwa berfikir positif tidak berarti satu penyelesaian sesudah itu selesai. Jika pertama anda gagal, coba, coba, dan coba lagi.
4. Akui prestasi anda! Jika hasil pekerjaan anda memang baik, akuilah! Kita semua mudah merasa tidak enak jika mengalami kegagalan. Jadi, mengapa tidak merasa senang jika berhasil? Terimalah dengan senang hati jika seseorang memuji anda! Cara terbaik menerima pujian tanpa menjadi sombong adalah cukup dengan mengucapkan terima kasih. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:18 AM  |
|
|
|
| 10 Kualitas prIbAdI... |
|
Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya di atas Ya dan Tidak di atas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.
Rendah hati beda dengan rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang di atasnya merasa nyaman dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.
Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
Bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya.
Keceriaan karena tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tetapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia dapat mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.
Bertanggung jawab dia akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.
Percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.
Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar, tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.
Easy going orang yang menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan tertekan dengan masalah-masalah yang berada di luar kendalinya.
Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tetapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik, dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:10 AM  |
|
|
|
| Mnjd P.E.N.D.E.N.G.A.R yg bAIk ... |
|

Menjadi Pendengar yang Baik, Menjadi Pendengar yang Baik Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi salah paham yang diakibatkan oleh buruknya komunikasi. Komunikasi yang macet biasanya karena salah seorang tidak mau mendengarkan.
Untuk itu tak ada salahnya apabila kita berusaha menjadi pendengar yang baik. Berikut ini beberapa kiat yang bisa jadi pegangan : 1. Hendaklah bersikap empati, yaitu mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain. 2. Ciptakan iklim emosional sehingga orang lain merasa aman, bebas, dan dihargai untuk berbicara. 3. Disiplin dalam mendengar. Mau dan mampu memberi tanggapan yang sesuai dengan situasi dan kondisi. 4. Tunjukan perhatian dan minat mendengarkan. Caranya, dengan memperlihatkan posisi tubuh yang santai. Arahkan pandangan mata ke pembicara sambil dibarengi ekspresi wajah yang sesuai dengan perasaan pembicara. Tunjukan sikap bersahabat, seperti melontarkan senyum. Tak lupa gunakan anggukan kepala sebagai tanda penghargaan atau rasa tertarik. 5. Memberi semangat pada orang lain untuk berbicara dan memberi ekspresi lanjutan untuk tetap membuat orang lain berbicara. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:08 AM  |
|
|
|
| Potensi Diri - S.E.M.A.N.G.A.T |
|

Wanda baru satu bulan bekerja di bidang pemasaran sebuah perusahaan kosmetik. Bulan pertama ini ia bekerja dengan penuh semangat. Ia banyak memberikan masukan baru, ide-ide baru yang, menurut dia, akan membantu penjualan.
Ia datang paling pagi karena rumahnya jauh dari tempat kerja. Ia sangat bangga dengan pekerjaannya. Bila orang lain menanyakan di mana ia bekerja, ia menjawabnya dengan penuh semangat dan kebanggaan.
Anehnya, rekan-rekan kerjanya, Andi dan Tuti, yang sudah bekerja lebih lama menganggap remeh semangat Wanda ini. Mereka berkata: "Maklum, dia masih baru, sih." Mereka sudah bekerja dua belas tahun lebih dan ternyata semangat mereka sudah hampir hilang.
Mereka tidak lagi bekerja dengan menggebu-gebu. Tuti merasa ia tidak perlu terlalu bersemangat karena toh gajinya tidak akan menjadi dua kali lipat kalau ia rajin. Untuk apa bekerja mati-matian? Begitu pikirnya.
Lain lagi dengan Linda, ia sering mengajak Wanda berdiskusi. Wanda belajar banyak dari Linda, demikian juga sebaliknya. Mereka sering berlomba sendiri untuk menjual lebih banyak, padahal Linda sudah sebelas tahun bekerja. Bisa dibilang semangat mereka seimbang. Pada saat yang satu agak lemah, maka yang lain membantunya.
Memang ada orang-orang seperti Andi dan Tuti yang berpikir untuk apa bekerja keras kalau gajinya sama saja. Mau malas, mau rajin, tidak ada bedanya. Untuk apa bekerja rajin-rajin, begitu kata mereka.
Mereka tidak lagi memiliki tujuan dalam bekerja. Mereka melihat pekerjaan sebagai beban, bukan lagi suatu tantangan atau kegiatan yang menyenangkan. Bagi orang yang menganggap pekerjaan sebagai beban, biasanya ia akan merasa cepat lelah.
Pada waktu ia bangun tidur, ia sudah merasa lelah untuk berangkat bekerja. Begitu sampai di kantor ia otomatis ingin beristirahat karena merasa lelah. Maka, ia lalu baca koran, sarapan, atau melanjutkan tidur. Kemudian apa lagi? Mungkin ia akan menghabiskan waktu untuk menunggu jam pulang kantor yang terasa tak kunjung tiba.
Mereka menganggap bahwa perusahaan diuntungkan dan mereka dirugikan kalau mereka bekerja lebih rajin. Mereka lupa bahwa mereka sendirilah yang rugi kalau mereka tidak bersemangat.
Gerakan fisik pasti berkurang, belum lagi kemampuan otak yang dihambat karena dipaksa untuk pasif. Lagi pula, kinerja yang kurang baik bisa menyebabkan tertutupnya kemungkinan promosi ke jabatan yang lebih tinggi. Ingat kisah Udin yang tadinya bekerja sebagai pembersih lift di sebuah gedung perkantoran, kemudian ada orang yang menawarkan pekerjaan sebagai office boy dengan gaji lebih tinggi. Mengapa ia yang ditawari pekerjaan? Mengapa bukan temannya yang lain?
Karena Udin tidak menganggap pekerjaannya sebagai beban. Pembersih lift yang lain tidak mempedulikan para pengguna lift, tapi Udin lain. Ia selalu membantu menekan tombol untuk membuka pintu lift, atau mengulurkan tangannya untuk menahan pintu lift tertutup pada saat ada orang yang ke luar atau masuk lift.
Seandainya ia dulu bekerja malas-malasan, atau kurang bersemangat karena gaji kecil, pasti dia akan kelihatan loyo dan tidak akan terpilih untuk ditawari pekerjaan lain.
Lagi pula benarkah anggapan bahwa semangat akan menurun bila sudah lama bekerja? Justru sebaliknya, Linda membuktikan bahwa ia tetap bersemangat tinggi meskipun ia sudah lama bekerja. Ia menyenangi pekerjaannya. Ia menikmati hari-hari kerjanya.
Kesenangannya bekerja terpancar di wajahnya yang selalu bersemangat. Tingkah lakunya sigap, selalu bersedia membantu orang lain dan tidak pernah melakukan korupsi waktu selama di tempat kerja. Sama dengan Wanda, ia tidak pernah terlambat datang ke kantor. Andi dan Tuti lupa bahwa keadaan hati yang loyo, sikap malas, rasa tidak puas dan hal-hal lain yang mereka rasakan, akan terpancar di wajah dan tingkah laku mereka sehari-hari.
Kalau sudah begitu, tentu atasan dapat melihat dan merasakannya. Akhirnya siapa yang rugi? Tentu diri sendiri bukan?
Nah, kalau semangat memang sudah berkurang, apa yang harus kita lakukan? Mudah sekali.
Pertama, cari kesenangan baru dalam pekerjaan. Misalnya Tuti malas mengetik proposal, nah ia bisa mulai dengan menetapkan target untuk membuat proposal lebih cepat.
Atau ia bisa mengubah proposalnya menjadi lebih menarik, lebih jelas, atau sekadar mencari-cari jenis huruf yang lebih sesuai. Ia akan menemukan keasyikan baru sehingga mendongkrak semangatnya.
Kedua, anggaplah hambatan sebagai tantangan yang harus dikalahkan. Hambatan dan tantangan adalah hal yang sama, yang berbeda hanya sudut pandangnya. Bila dianggap sebagai hambatan, maka langkah kita menjadi lebih berat.
Seperti orang berlomba lari, bila ia melihat batu-batuan sebagai hambatan, maka ia akan merasa berat. Tapi bila ia melihatnya sebagai tantangan, maka langkahnya malah lebih panjang, lompatannya akan lebih tinggi karena ia berfokus pada cara terbaik untuk mengatasinya. Di samping itu ia akan menemukan kesenangan baru.
Love your job! Enjoy! |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:05 AM  |
|
|
|
| B.E.R.I.kan 'n L.U.P.A.kan |
|

Suatu malam hujan turun dengan lebat diiringi angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Malam itu telepon berdering di rumah seorang dokter. ''Istri saya sakit,'' terdengar suara minta pertolongan. ''Dia sangat membutuhkan dokter segera.
'' Si dokter menjawab, ''Dapatkah bapak menjemput saya sekarang? Mobil saya sedang masuk bengkel.'' Mendengar jawaban itu, lelaki tersebut menjadi berang. ''Apa?!'' katanya dengan marah. ''Saya harus pergi menjemput dokter pada malam yang berhujan lebat seperti ini?''
Coba Anda renungkan cerita inspiratif diatas. Seperti yang sudah saya paparkan dalam rubrik ini bulan lalu, kita senantiasa meminta sesuatu kepada orang lain. Sayangnya, kita seringkali lupa untuk memberi. Kita tak sadar bahwa apapun yang kita berikan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bukan untuk siapa-siapa. Di dunia ini tak ada yang gratis.
Segala sesuatu ada harganya. Seperti halnya membeli barang, Anda harus memberi terlebih dahulu sebelum meminta barang tersebut. Kalau Anda seorang penjual, Anda pun harus memberikan pelayanan dan menciptakan produk sebelum meminta imbalan jasa Anda. Inilah konsep ''memberi sebelum meminta'' yang sayangnya sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal ''memberi sebelum meminta'' adalah sebuah hukum alam. Kalau Anda ingin anak Anda mendengarkan apa yang Anda katakan, Andalah yang harus memulai dengan mendengarkan keluh kesah mereka. Kalau Anda ingin karyawan atau bawahan Anda bekerja dengan giat, Andalah yang harus memulai dengan memberikan perhatian, dan lingkungan kerja yang kondusif. Kalau Anda ingin disenangi dalam pergaulan, Anda harus memulainya dengan memberikan bantuan dan keperdulian kepada orang lain. Orang yang tak mau memberi adalah mereka yang senantiasa dihantui perasaan takut miskin.
Inilah orang-orang yang ''miskin'' dalam arti yang sesungguhnya. Padahal, di dunia ini berlaku hukum kekekalan energi. Kalau Anda memberikan energi positif kepada dunia, energi itu tak akan hilang. Ia pasti kembali kepada Anda. Persoalannya, banyak orang mengharapkan imbalan perbuatan baiknya langsung dari orang yang ditolongnya.
Ini suatu kesalahan.!!!!! Dengan melakukan hal itu, Anda justru membuat bantuan tersebut menjadi tak bernilai. Anda mempraktikkan manajemen ''Ada Udang Di Balik Batu.'' Anda tak ikhlas dan tak tulus. Ini pasti segera dapat dirasakan oleh orang yang menerima pemberian Anda. Jadi, alih-alih menciptakan kepercayaan pemberian Anda malah akan menghasilkan kecurigaan. Agar dapat efektif, Anda harus berperilaku seperti sang surya yang memberi tanpa mengharapkan imbalannya. Untuk itu tak cukup memberikan harta saja, Anda juga harus memberikan diri Anda, dari hati Anda yang paling dalam. Jangan pernah memikirkan imbalannya. Anda hanya perlu percaya bahwa apapun yang Anda berikan suatu ketika pasti kembali kepada Anda. Ini merupakan suatu keniscayaan, suatu hukum alam yang sejati.
Sebetulnya semua orang di dunia ini senantiasa memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Namun, kita dapat membedakannya menjadi dua tipe orang. Orang pertama kita sebut sebagai orang yang egois. Merekalah orang yang selalu meminta tetapi tak pernah memberikan apapun untuk orang lain. Orang ini pasti dibenci dimana pun ia berada.
Jenis orang kedua adalah orang yang juga mementingkan diri sendiri, tetapi dengan cara mementingkan orang lain. Mereka membuat orang lain bahagia agar mereka sendiri menjadi bahagia. Ini sebenarnya juga konsep mementingkan diri sendiri tetapi sudah diperhalus. Kalau Anda selalu memberikan perhatian dan bantuan kepada orang lain, banyak orang yang akan menghormati dan membantu Anda. Kalau demikian, Anda sebenarnya sedang berbuat baik pada diri Anda sendiri.
Bagaimana kalau Anda membaktikan diri Anda untuk menolong anak-anak terlantar dan orang-orang miskin? Ini pun sebenarnya adalah tindakan ''mementingkan diri sendiri dengan cara mementingkan orang lain.'' Anda mungkin tak setuju dan mengatakan, ''Bukankah saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya kan bekerja dengan sukarela.
'' Memang benar, Anda tidak mendapatkan apa-apa secara materi, tetapi apakah Anda sama sekali tidak mendapatkan apa-apa? Jangan salah, Anda tetap akan mendapatkan sesuatu yaitu kepuasan batin. Kepuasan batin inilah yang Anda cari. Anda membantu orang lain supaya mendapatkan hal ini.
Jadi, apapun yang kita lakukan di dunia ini semuanya adalah untuk kepentingan kita sendiri. Orang-orang yang egois sama sekali tak memahami hal ini. Mereka tak sadar bahwa mereka sedang merusak diri mereka sendiri.
Sementara orang-orang yang baik budinya sadar bahwa kesuksesan dan kebahagiaan baru dapat dicapai kalau kita membuat orang lain senang, menang, dan bahagia. Hanya dengan cara itulah kita akan dapat menikmati kemenangan kita dalam jangka panjang. Inilah hukum Menang-Menang (win-win) yang berlaku dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja.
Sumber : Arvan Pradiansyah, penulis buku You Are A Leader! |
posted by Yan Adi Wibowo @ 6:02 AM  |
|
|
|
| ... 6 bAtU UjIAn |
|

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna? Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan?
Ujian untuk merasakan sesuatu bersama. Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan.Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin membagi ini bersama sahabatku? Jika kalian merencanakan sesuatu,adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain? Sebagaimana Herman Oeser, seorang penulis Jerman pernah mengatakan, "Mereka yang ingin bahagia sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah membuat pihak yang lain bahagia. - mereka yang ingin dimengerti pihak yang lain, janganlah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti pasangannya." Maka batu ujian yang pertama ialah: "Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?"
Ujian kekuatan. Saya pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana, bahwa berat badan seseorang akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta. Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya, dia tidak kehilangan berat badannya dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang benar, bahwa pengalaman cinta itu juga bisa mempengaruhi keadaan jasmani. Tapi dalam jangka panjang cinta sejati tidak akan menghilangkan kekuatan kalian; bahkan sebaliknya akan memberikan kekuatan dan tenaga baru pada kalian. Cinta akan memenuhi kalian dengan kegembiraan serta membuat kalian kreaktif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi. Batu ujian kedua: "Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan tenaga kreaktif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga kita?"
Ujian penghargaan. Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang lain. Seorang gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?", jawabnya sering sekali menjadi negatif. Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak-anakku?", gadis tadi mungkin akan berubah dalam pandangannya. Pertanyaannya ialah: "Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan yang tinggi satu kepada yang lainnya? Apa aku bangga atas pasanganku?"
Ujian kebiasaan. Pada suatu hari seorang gadis Eropa yang sudah bertunangan datang pada saya. Dia sangat risau, "Aku sangat mencintai tunanganku," katanya, "tapi aku tak tahan caranya dia makan apel." Gelak tawa penuh pengertian memenuhi ruangan. "Cinta menerima orang lain bersama dengan kebiasaannya. Jangan kawin berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa kebiasaan-kebiasaan itu akan berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar itu takkan terjadi. Kalian harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya beserta segala kebiasaan dan kekurangannya. Pertanyaannya: "Apakah kita hanya saling mencintai atau juga saling menyukai?"
Ujian pertengkaran. Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin kawin, saya selalu menanyakan mereka, apakah mereka pernah sesekali benar-benar bertengkar - tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil, tetapi benar-benar bagaikan berperang. Seringkali mereka menjawab, "Ah, belum pernah, pak, kami saling mencintai." Saya katakan kepada mereka, "Bertengkarlah dahulu - barulah akan kukawinkan kalian." Persoalannya tentulah, bukan pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling berdamai lagi. Kemampuan ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks, tapi batu ujian pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang "dibutuhkan" sebelum kawin. Pertanyaannya: "Bisakah kita saling memaafkan dan saling mengalah?"
Ujian waktu. Sepasang muda mudi datang kepada saya untuk dikawinkan. "Sudah berapa lama kalian saling mencintai?" tanya saya. "Sudah tiga, hampir empat minggu," jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya minimum satu tahun bolehlah. Dua tahun lebih baik lagi. Ada baiknya untuk saling bertemu, bukan saja pada hari-hari libur atau hari minggu dengan berpakaian rapih, tapi juga pada saat bekerja di dalam hidup sehari-hari, waktu belum rapi, atau cukur, masih mengenakan kaos oblong, belum cuci muka, rambut masih awut-awutan, dalam suasana yang tegang atau berbahaya. Ada suatu peribahasa kuno, "Jangan kawin sebelum mengalami musim panas dan musim dingin bersama dengan pasanganmu." Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu, sang waktu akan memberi kepastian. Tanyakan: "Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim dingin? Sudah cukup lamakah kita saling mengenal?"
Dan izinkan saya memberikan suatu kesimpulan yang gamblang. Seks bukan batu ujian bagi cinta. "Jika sepasang muda mudi ingin punya hubungan seksual untuk mengetahui apakah mereka saling mencintai, perlu ditanyakan pada mereka, "Demikian kecilnya cinta kalian?" Jika kedua-duanya berpikir, "Nanti malam kita mesti melakukan seks - kalau tidak pasanganku akan mengira bahwa aku tidak mencintai dia atau bahwa dia tidak mencintai aku," maka rasa takut akan kemungkinan gagal sudah cukup menghalau keberhasilan percobaan itu. Seks bukan suatu batu ujian bagi cinta, sebab seks akan musnah saat diuji. Cobalah adakan observasi atas diri saudara sendiri pada waktu saudara pergi tidur. Saudara mengobservasi diri sendiri, kemudian tidak bisa tidur. Atau saudara tidur, kemudian tidak lagi bisa mengobservasi diri sendiri. Sama benar halnya dengan seks sebagai suatu batu ujian untuk cinta. Saudara menguji, sesudah itu tidak lagi mau mencintai. Atau saudara mencintai, kemudian tidak menguji. Untuk kepentingan cinta itu sendiri, cinta perlu mengekang menyatakan dirinya. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 5:52 AM  |
|
|
|
| wAnItA bijak ... |
|

1. Kalo pria buat kesalahan gak langsung disalahkan tapi dimengerti 2. Kalo pria buat kesalahan gak langsung disalahkan tapi dimengerti 3. Tidak mengungkit-ungkit masa lalu 4. Bicaranya nyambung, karena dia tau menggunakan kalimat-kalimat yang tepat 5. Mampu memberikan second opinion yang brilian 6. Mampu membangkitkan semangat dan mendorong pasangannya untuk maju 7. Tidak gampang ngambek, bersungut-sungut dan selalu berpikiran positif
|
posted by Yan Adi Wibowo @ 5:46 AM  |
|
|
|
| ** teMPe '' |
|
 "Tukang tempe tertantang tukang tahu" Takkala temperatur terik terbakar terus, tukang tempe tetap tabah, "Tempe-tempe", teriaknya. Ternyata teriakan tukang tempe tadi terdengar tukang tahu, terpaksa teriakannya tambah tinggi, "Tahu-tahu-tahu!" "Tempenya terbaik, tempenya terenak, tempenya terkenal!!", timpal tukang tempe. Tukang tahu tidak terima,"Tempenya tengik, tempenya tawar,tempenya terjelek!" Tukang tempe tertegun, terhenyak, "Teplakkk...!" tamparannya tepat terkena tukang tahu. Tapi tukang tahu tidak terkalahkan, tendangannya tepat terkena tulang tungkai tukang tempe. Tukang tempe terjengkang tumbang! Tapi terus tegak, tatapannya terhunus tajam terhadap tukang tahu. Tetapi, tukang tahu tidak terpengaruh tatapan tajam tukang tempe tersebut, "Tidak takut!!!" tantang tukang tahu. Tidak ternyana tangan tukang tempe terkepal, tinjunya terarah, terus tonjokkannya tepat terkena tukang tahu, tak terelakkan! Tujuh tempat terkena tinjunya, tonjokan terakhir tepat terkena telak. Tukang tahu terjerembab. "Tolong... tolong... tolong...!", teriaknya terdengar tinggi. Tetapi tanpa tunda tempo, tukang tempe teruskan teriakannya, "Tempe... tempe.... tempe...! TAMAT |
posted by Yan Adi Wibowo @ 5:44 AM  |
|
|
|
| bUngA mawar ... |
|
 Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna. Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya. Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, "Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini." Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu. ***Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada 'mawar' yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah. Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat "duri" yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk "menyirami" hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki. Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya. Jika kita bisa menemukan "mawar-mawar" indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul. Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan "mawar-mawar" ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa. Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 5:42 AM  |
|
|
|
| :: rEmAsLAh tAngAnkU.... |
|
 Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka? Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit? Ibuku, Grace Rose, selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, mendudukkan diriku, lalu mencium "aduh"-ku. Lalu ia duduk di tempat tidur di sampingku, meraih tanganku dan berkata, "Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan Aku sayang kamu." Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, "Mary, Ibu sayang kamu." Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya akumemperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan meningkatkan rasa senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku. Pada hari-hari sulit di SMU, ia akan menawarkan sebatang cokelat almond Hershey kesukaannya saat aku pulang. Semasa usiaku 20-an, Ibu sering menelepon untuk menawarkan piknik makan siang spontan di Taman Eastbrook untuk sekadar merayakan hari cerah dan hangat di Wisconsin. Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke rumahku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya. Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, "Kalau sakit, remaslah tangan Ibu dan akan kukatakan aku sayang kamu." Suatu pagi, saat aku berusia akhir 30-an, setelah orangtuaku berkunjung pada malam sebelumnya, ayahku meneleponku di kantor. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberi nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya. "Mary, ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari." Perjalanan mobil 10 menit ke rumah orangtuaku diiringi oleh rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saa! t aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara Ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin. "Bu, aku sudah datang." "Mary?" "Iya, Bu." "Mary, kaukah itu?" "Iya, Bu, ini aku." Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa. "Mary, apakah Ibu akan mati?" Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku tercinta terbaring di situ tak berdaya. Pikiranku melayang, sampai pertanyaan itu terlintas dalam benakku: 'Jika keadaannya terbalik, apa yang akan dikatakan Ibu padaku?' Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku. "Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu." Ia berseru, "Mary, rasanya sakit sekali." Lagi-lagi, aku bingung hendak berkata apa. Aku duduk di sampingnya di tempat tidur, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata, "Bu, kalau Ibu sakit, remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu." Ia meremas tanganku. "Bu, aku sayang padamu." Banyak remasan tangan dan kata "aku sayang padamu" yang terlontar antara aku dan ibuku selama dua tahun berikutnya, sampai ia meninggal akibat kanker indung telur. Kita tak pernah tahu kapan ajal kita tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali, "Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang padamu." Catatan : Salah satu cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang anda cintai adalah dengan memegang dan meremas tangannya dengan lembut Tindakan itu kadangkala mengandung makna dan arti yang teramat dalam yang hanya dapat dipahami antara anda dan orang yang anda cintai...... |
posted by Yan Adi Wibowo @ 5:27 AM  |
|
|
|
| ... mAknA kEhIdUpAn |
|
 Tuhan yang Maha Baik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai. Mulailah sekarang... mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya. Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya. Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan,tetapi kehidupan lajang juga memiliki suka-duka. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah,dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya. Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah hati seorang wanita. Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya. Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita. Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain... tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu. Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah. Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan. Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya. Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat. Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta. Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah. Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita. Kamu tak bisa mengubah masa lalu.... tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan. Bila Kamu mengisi hati kamu .... dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri. Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses. |
posted by Yan Adi Wibowo @ 5:22 AM  |
|
|
|
| ...sAmpAh |
|

Ku duduk di ujung jalan kulihat seorang penyapu jalan dia wanita bahkan ada dua dengan seragamnya.
kuperhatikan sambil berpikir, dan membayangkan apa jadinya jika jalan ini tidak disapu.
berbagai mungkin berputar-putar di otakku mungkin akan kotor sekali mungkin akan terpenuhi dengan debu mungkin bau busuk akan menyengat
otakku berputar-putar berapa ya gajinya cukup enggak ya hasilnya untuk menyuplai kebutuhan keluarganya?
Di suatu saat lain ketika ku jalan di gang tempat aku menunggu angkot kulihat tukang sampah sedang menarik gerobagnya penuh dengan sampah tentunya di samping beberapa ranting pohon yang kelihatan menyembul antara sampah.
otakku berkecamuk berapa ya gajinya sebanding dengan tenaganyakah bisakah itu mengisi kebutuhannya bersama keluarganya.
kubayangkan di rtku rt sebuah komplek komplek yang pasti jauh dibandingkan dengan keadaan rumah penyapu jalan dan tukang sampah tadi yang bahkan beberapa diantaranya adalah pejabat yang pasti pendapatannya tidak sedikit
Sebuah rt yang cukup kalau bisa kukatakan tetapiiiiii.... ketika bicara tentang iuran sampah yang naik sekitar duaribu rupiah maka banyak yang langsung komentar tidak setuju dengan alasan, harga bensin naik harga-harga naik kebutuhan meningkat dan lain-lain tentunya
Aku kembali teringat si tukang sampah dan penyapu jalan tadi apakah mereka juga tidak terkena imbas dari kenaikan yang disebutkan tadi apak tidak terimbas?
Ya Allah, sadarkanlah aku yang kadang tidak bisa mengeluarkan uang duaribu rupiah untuk hal baik dalam sebulan tetapi dengan mudah mengeluarkan limapuluh ribu hanya untuk nraktir teman yang sudah berkecukupan sehari
Ya Allah sadarkanlah aku yang kadang tidak mau menyumbang dengan uang sepuluh ribu sebulan tetapi sering mengeluarkan uang ratusan ribu hanya untuk menambah asesoris mobilku, bahkan yang sering aku copot kembali.
Ya Allah sadarkanlah aku yang kadang sering menolak bersedekah untuk pembangunan mesjid ataupun jalan yang rusak walau seribu tetapi dengan mudahnya aku dengan mudah mengeluarkan sejuta untuk menambah koleksiku, bahkan itu tidak pernah aku pakai.
Ya Allah maafkanlah aku, sadarkanlah aku dan bimbinglah aku.
Selamat beribadah.... |
posted by Yan Adi Wibowo @ 4:46 AM  |
|
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: Yan Adi Wibowo
Home: BSD City, Indonesia
About Me: * I want to make happy everyone in around me...!!
See my complete profile
|
| Amalmu.. 'tuk PALESTINA |
|
| SMS Gratis |
|
| YM PingBox |
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
|
| Links |
|
|
| Download Materi |
|
|
| Tuker Barner Yuk |
|
| List Barner |
|
| IP Information |
|
| User Online |
|
| Live Traffic Feed & Map |
|
|
| Visitor |
|
| Powered by |
 |
|