
Sukses dan tidaknya suatu proyek sangat tergantung dari manusia yang terlibat di dalamnya. Karena itu, jika anda memiliki kesempatan untuk menjadi manajer proyek, maka kemampuan memahami motivasi personil tim kerja sangatlah diperlukan. Setiap manusia, hidup karena adanya keinginan dan harapan. Bila anda mampu mengakomodasi harapan mereka, maka anda akan dapat merebut komitmen dan loyalitasnya.
Tapi keinginan manusia bagaikan laut tanpa batas. Sebagai contoh – ketika kita mulai berkarir – motivasi awal kita dalam bekerja adalah terpenuhinya "kebutuhan fisiologis" – yaitu cukup makan, pakaian dan tempat kos untuk berteduh. Ketika kebutuhan ini telah terpenuhi – karir kita menanjak – kita ingin memiliki rumah sendiri. Berikutnya, karena rumah sudah dimiliki, berikutnya akan dikejar rasa aman. Sekolah anak ? perlu asuransi pendidikan. Jika meninggal, siapa yang membayar tunggakan-tunggakan yang ada? mendorong asuransi jiwa, kalau mobil kesrempet truk di jalan bagaimana ? Perlu asuransi mobil. Hal-hal seperti ini tidak bisa di"jual" ke orang yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Tahap ini adalah tahap pemenuhan kebutuhan akan "rasa aman".
Kalau sudah punya rumah dan kendaraan yang "fancy", berikutnya adalah keinginan untuk bersosialisasi –mulai ada keinginan untuk arisan dan bila perlu menjadi tuan rumahnya. Sebagai mahluk sosial manusia memerlukan manusia lain. Sesombong apapun orang, dia perlu orang lain, minimal untuk menyaksikan kesombongannya. Club-club Golf, temu alumni, kegiatan sosial – Rotary Club – Lions Club, yayasan sosial dan keagamaan, biasanya beranggotakan orang yang berada pada tingkatan keinginan "bersosialisasi" ini.
Setelah tahapan sosialisasi, maka manusia akan masuk ke tahap keinginan untuk "dihargai" dalam komunitas. Dalam ikatan alumni misalnya, ingin menjadi sekretaris atau bendahara bahkan ingin jadi ketua. Dan pada puncaknya adalah tahap "aktualisasi" diri. Sudah banyak "rahmat" yang telah diterima, maka ada saatnya manusia ingin mengamalkan hidupnya untuk berbuat banyak bagi masyarakat. Keinginan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat atau keinginan untuk memperbaiki kehidupan timbul pada saat ini. Tetapi sangat celaka kalau – anggota DPR yang semestinya adalah orang-orang pada tahap aktualisasi diri ini – ternyata merupakan oknum-oknum yang masih berkutat pada masalah kebutuhan fisiologis.
Keinginan yang bertingkat, dimana terpenuhinya satu tingkat kebutuhan, akan menimbulkan motivasi untuk mengejar kebutuhan lain, menyebabkan keinginan manusia seolah laut tanpa batas. Bagi orang yang mengejar dengan keserakahan, maka isi dunia seolah tidak cukup bagi dirinya. World is not Enough. Rekan-rekan sekalian, marilah kita renungkan apa artinya "Cukup" – sehingga anda memahami kapan harus berhenti. Tidak tahu kapan berhenti, terbukti telah banyak membawa celaka, bahkan itu membawa nestapa bagi pemimpin negara sekalipun.
Jika anda memahami "hirarki kebutuhan" ini, maka akan lebih mudah untuk membangun motivasi pekerja anda. Cara memotivasi "Office Boy" tidak sama dengan "arsitek" yang merancang Gedung sepuluh lantai yang sedang anda bangun. Office Boy akan mengingat dengan penuh rasa terima kasih ketika kita memberikan "bonus" Rp. 150.000,- untuk membantu biaya sekolah anaknya. Tetapi apa arti uang sebesar itu untuk seorang arsitek ? Dengan harga yang sama, dia akan lebih mengingat korek Zippo yang kita berikan saat dia berulang tahun. "Sentuhan kecil" harus tepat, sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
Selain untuk memimpin orang lain, memahami tingkatan kebutuhan ini, perlu untuk memimpin diri sendiri. Sebagai manajer proyek terkadang kita digoda oleh peluang-peluang yang menjerumuskan kita. Ada suatu tembang Jawa berirama Asmarandana yang isinya bisa kita gunakan untuk bahan perenungan :
Ojo turu sore kaki, ono dewo anglayang jagad, nyangking bokor kencono, isine dungo tetulak, sandang wisma pangan. Ikumung bagian ipun, wong melek sabar narimo.
"Jangan tidur sore-sore, cucuku" – kalimat ini menasehati kita agar jangan tidur atau membuka mata terhadap berbagai peluang yang ada. = = = "Ada dewa yang malayang memantau dunia" – tetapi dalam mengambil berbagai peluang, ingatlah selalu bahwa ada Tuhan yang memantau alam semesta ini. = = = "Membawa bokor kencono" – beliau membawa bokor emas. = = = "yang berisi doa tolak bala, sandang wisma pangan" – kebutuhan fisiologis dan rasa aman. = = = "Rahmat tersebut untuk orang yang melek, sabar dan nrimo" – Apa kriteria orang yang terpilih mendapat rahmat tersebut ? yaitu orang yang "melek" – pandai melihat peluang, "sabar" – mampu menahan gejolak nafsu, "nrimo" – merasa puas terhadap rahmat yang telah dianugrahkan olehNya pada saat ini.
Rekan-rekan sekalian, jika anda sedang memiliki kewenangan, INGATLAH ! Ada "MATA" yang memantau jagad ini. |